Ringkasan hukum-hukum puasa ramadhan 05 (awal kitab)

e-book asli kitab

pemateri dan penerjemah : Ustad Muhammad Yusron

المقدمة

Pendahuluan

الحمدالله والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, semoga shalawat dan salam tercurah atas Rasulullah, keluarganya dan sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari pembalasan. Adapun setelah itu.

فهذا (مختصر في أحكام الصيام)، مستلٌّ من رسالة: (الإلمام بشيء من أحكام الصيام) رأيت الحاجة داعية إلى ذلك، وهو يحتوي على جملة مما في الأصل من الأحكام، وجعلت تحت موضوعات تقرب المعاني إلى القارئ.

Maka kitab ini adalah kitab (ringkasan yang membahas tentang hukum-hukum puasa ramadhan) yang kitab ini diambil dari sebuah tulisan yang diberi judul (pengetahuan dari hukum-hukum berpuasa), aku memandang sangat dibutuhkannya yang mendorong untuk aku melakukan ringkasan itu, dan kitab ini mengandung sejumlah perkara-perkara yang aslinya dari hukum puasa ramadhan. Dan dijadikan beberapa judul di bawah yang bisa mendekatkan kepada Makna-makna kepada orang yang membawanya.

وأسأل الله أن ينفع بها، وأن يرزقنا جميعا العلم النافع والعمل الصالح،  وأن يثبت الجميع على الهدى إنه ولي ذلك والقادر عليه.

Aku memohon kepada Allah agar Allah memberikan manfaat dengannya, dan agar Allah memberikan rezeki kepada kita sekalian ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. Dan agar Allah memberikan keteguhan kepada kita seluruhnya diatas petunjuk Allah. Sesungguhnya Allah pemilik hal itu dan Allah yang maha mampu atasnya.

وصلى الله وسلم على نبينا وآله وصحبه أجمعين.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan atas Nabi kita Muhammad dan keluarganya dan sahabatnya seluruhnya.

كتبه

Penulis

عبدالعزيز بن عبدالله الراجحي

Abdul Aziz bin Abdullah Ar Rojihi

Ringkasan hukum-hukum puasa ramadhan 07

e-book kitab

pemateri dan penerjemah : Ustad Muhammad Yusron

بم يجب صوم رمضان؟

Dengan apakah diwajibkan puasa ramadhan?

يجب صوم رمضان بأحد أمرين لا ثالث لهما:

Puasa ramadhan diwajibkan dengan salah satu dari 2 hal, tidak ada yang ketiga:

أحدهما: رؤية هلال رمضان.

Pertama : melihat hilal tanda masuknya bulan ramadhan

الثاني: إكمال شعبان ثلاثين يوما.

Kedua : menyempurnakan sya’ban 30 hari.

ويجب الفطر من رمضان بأحد أمرين لا ثالث لهما :

Dan diwajibkan berbuka dari ramadhan dengan salah satu dari 2 perkara, tidak ada yang ketiga:

أحدهما: رؤية هلال شوال

Pertama : melihat hilal tanda masuknya bulan syawal

الثاني: إكمال رمضان ثلاثين يوما إذا ثبت رؤية هلال رمضان بشهادة عدلين.

Menyempurnakan ramadhan 30 hari apabila telah tetap melihat hilal bulan ramadhan dengan persaksian 2 orang yang adil

والأدلة على ذلك كثيرة في السنة المطهرة، فمنها ما ثبت في الصحيحين من حديث عبدالله بن عمر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر رمضان فقال: لا تصوم موا حتى تروا الهلال، ولا تفطروا حتى تروه، فإن غم عليكم فاقدروا له(١)

Dan dalil-dalil yang menunjukkan hal itu sangat banyak di dalam Sunnah yang disucikam, diantaranya apa yang telah tetap di dalam 2 kitab shahih (shahih Bukhari dan shahih Muslim) dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebut-nyebut bulan ramadhan dan bersabda : janganlah kalian berpuasa hingga kalian sudah melihat hilal (tanda masuknya bulan ramadhan), dan janganlah kalian berbuka hingga kalian melihatnya (hilal tanda masuknya bulan syawal). Apabila terhalang atas kalian (hilal tersebut) maka sempurnakanlah 30 hari(1)

______

(١) أخرجه البخاري: كتاب الصوم، باب قول النبي صلى الله عليه وسلم : إذا رأيتم الهلال فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا، رقم (١٩٠٦)، مسلم: كتاب الصيام رقم (١٠٨٠)

(1) diriwayatkan Bukhari: kitab puasa, bab perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam: apabila kalian melihat hilal maka puasa lah, dan apabila kalian melihatnya hilal maka berbukalah, nomor (1906), diriwayatkan Muslim: Kitab puasa nomor (1080)

Ringkasan hukum-hukum puasa ramadhan 08

e-book kitab

pemateri dan penerjemah : Ustad Muhammad Yusron

وفي لفظ البخاري: الشهر تيع وعشرون ليلة، فلا تصوموا حتى تروه، فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين(١)

Dan di dalam lafadz yang diriwayatkan oleh Bukhari: bulan itu 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal bulan ramadhan. Jika terhalang oleh kalian (hilal tersebut) maka sempurnakanlah bilangan sya’ban menjadi 30 hari(1)

وفي حديث أبي هريرة رضي الله عنه عند مسلم: فإن غمي عليكم الشهر فعدوا ثلاثين(٢)

Dan di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Muslim: maka apabila terhalangi oleh kalian bulannya hitunglah menjadi 30 hari(2)

وجمهور أهل العلم على أن المراد بقوله: (فاقدروا له) انظروا في أول الشهر واحسبوا تمام الثلاثين، ويرجح هذا التأويل الروايات المصر حة بالمراد.

Dan mayoritas para ulama mereka berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan sabda Nabi: (maka sempurnakanlah bulan itu) maknanya lihatlah hilal awal bulannya dan hitunglah oleh kalian 30 hari. Dan yang menguatkan penafsiran seperti ini adalah riwayat-riwayat yang menjelaskan apa yang dimaksudkan oleh Nabi.

ويؤيد هذا المعنى أيضا الأحاديث التي وردت بالنهي عن صوم يوم الشك كحديث أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم: لا يتقدمن أحدكم رمضان بصوم يوم أو يومين، إلا أن يكون رجل كان يصوم صومه، فليصم ذلك اليوم(٣)

Dan yang menguatkan makna ini juga beberapa hadits yang telah datang berisi larangan berpuasa pada hari yang diragukan sebagaimana hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: janganlah salah seorang diantara kalian mendahului ramadhan dengan berpuasa 1 hari atau 2 hari sebelumnya. Kecuali apabila seseorang yang dia biasa berpuasa pada hari itu maka hendaknya dia berpuasa pada hari itu(3)

وحديث عمار رضي الله عنه عند البخاري تعليقا مجزوما به: من صام يوم الشك فقد عصى أبا القاسم(٤)

Dan Hadits Ammar yang diriwayatkan oleh Bukhari dengan muallaq (Hadits yang dihapuskan seorang perawi atau lebih dari awal sanadnya secara berurutan) namun hadits ini menguatkan hadits yang sebelumnya: barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan maka sungguh dia telah durhaka kepada Abul Qasim (Rasulullah)(4)

______

(١) أخرجه البخاري: كتاب الصرم، باب قول النبي صلى الله عليه وسلم (إذا رأيتم الهلال فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا)، رقم(١٩٠٧)

(1) riwayat Bukhari: Kitab puasa, bab perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam (apabila kalian melihat hilal maka berpuasalah dan apabila kalian melihatnya maka berbukalah), nomor (1907)

(٢) سبق تخريجه

(2) telah disebutkan penjelasannya diawal

(٣) أخرجه البخاري: كتاب الصوم، باب: لا يتقدم رمضان بصوم يوم يوم ولا يومين، رقم(١٩١٤)، ومسلم: كتاب الصيام، باب لا تقدموا رمضان بصوم يوم ولا يومين، رقم(١٠٨٢)

(3) riwayat Bukhari: Kitab puasa, bab: janganlah kalian mendahului ramadhan dengan berpuasa sehari sebelumnya dan janganlah mendahului 2 hari sebelumnya, nomor (1914), riwayat Muslim: Kitab puasa, bab janganlah kalian mendahului ramadhan dengan berpuasa sehari sebelumnya dan janganlah mendahului 2 hari sebelumnya, nomor (1082)

(٤) أخرجه البخاري معلق: كتاب الصوم، باب قول النبي صلى الله عليه وسلم : إذا رأيتم الهلال فصوموا، وإذا رأيتموه فأفطروا، (٢٧/٣)

(4) riwayat Bukhari secara muallaq: Kitab puasa, bab perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam: apabila kalian melihat hilal maka puasalah, dan apabila kalian melihat hilal maka berbukalah. (3/27)

Ringkasan hukum-hukum puasa ramadhan 09

ebook kitab

pemateri dan penerjemah : Ustad Muhammad Yusron

وثبت في الصحيحين من حديث ابن عمر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: إنا أمة أمية، لا نكتب ولا نحسب، الشهر همذا وهكذا. يعني: مرة تسعة وعشرين ومرة ثلاثين(١)

Dan telah tetap di dalam 2 kitab shahih (Bukhari dan Muslim) dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, kami tidak menulis dan kami tidak menghitung bulan itu demikian dan demikian. Yakni: suatu kali bulan itu jumlah harinya 29,dan satu kali bulan itu 30 hari(1)

وهذا الحديث دليل على إبطال الاعتماد على الحساب في دخول الشهر وخروجه، وإنما يعتمد على الرؤية، أو إكمال عدة الشهر ثلاثين يوما، والحديث وصف هذه الأمة أهل الإسلام وصف أغلبيا بأنه ليس من شأنها الكتابه  والحساب في دخول الشهر وخروجه، وإن كانت تكتب، وتحسب في الأمور الأخرى كأمور التجارة وغيرها، والمراد أنه لا يعول على الحساب، وإنما يعول على رؤية الهلال في الأحكام، لأن النبي صلى الله عليه وسلم علق الحكم بالرؤية لا بالحساب، والرؤية يدركها الخاص والعام، والجاهل والعالم، وهذا يدل على يسر الشريعة وسماحتها فلله الحمد على ما يسر وسهل، وله الحكمة التامة في ما يشرعه لعباده لما يعلمه سبحانه لهم من المصلحة والرحمة، وهو الحكيم العليم سبحانه وبحمده.

Dan Hadits ini adalah dalil batalnya bersandar kepada ilmu hisab(perhitungan) di dalam menetapkan masuk dan keluarnya bulan, sesungguhnya yang dijadikan sandaran adalah dengan melihat bulan atau menggenapkan bilangan bulan 30 hari, adapun hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diatas telah mensifati umat ini sebagai orang islam dengan sifat yang mayoritas bahwasanya bukanlah termasuk perkaranya umat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menulis dan menghitung di dalam menentukan masuk dan keluarnya bulan. Sekalipun umat islam ada yang bisa menulis dan ada yang bisa menghitung dalam perkara-perkara yang lain seperti dalam perkara-perkara perdagangan dan sebagainya. Dan yang dimaksudkan bahwasanya masuk dan keluarnya bulan tidak kembali pada perhitungan, dan sesungguhnya hal itu kembali kepada melihat hilal di dalam banyak hukum-hukum, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam menghubungkan hukumnya itu dengan ru’yah (melihat bulan) bukan dengan hisab (perhitungan), dan melihat bulan itu bisa dimengerti oleh orang yang khusus maupun orang awam, dan dimengerti oleh orang yang bodoh maupun orang yang berilmu. Dan ini menunjukkan mudahnya dan ringannya syariat islam, maka segala puji hanya bagi Allah yang telah memudahkan dan yang telah memberikan keringanan dan Allah yang telah memberikan kemudahan. Dan Allah lah yang maha memiliki hikmah yang sempurnanya pada apa yang Allah syariatkan kepada hamba-hambanya yaitu perkara-perkara yang Allah ketahui untuk mereka berupa kemaslahatan dan kasih sayang Allah dan Dialah dzat yang memiliki hikmah dan bijaksana lagi maha mengetahui  Maha suci Allah dan dengan memujinya.

_____

(١) أخرجه البخاري : كتاب الصوم، باب قول النبي صلى الله عليه وسلم : لا نكتب ولا نحسب، رقم(١٩١٣)، ومسلم: كتاب الصيام، باب وجوب صوم رمضان لرؤية الهلال رقم(١٠٨٠)

(1) riwayat Bukhari: Kitab puasa, bab perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam: kami tidak menulis dan kami tidak menghitung, nomor(1913), Muslim: Kitab puasa, bab wajibnya puasa ramadhan karena melihat hilal, nomor (1080)

Ringkasan hukum-hukum puasa ramadhan 10-11

ebook kitab

pemateri dan penerjemah : Ustad Muhammad Yusron

أحكام الصيام قبل حلوله

Hukum-hukum berpuasa sebelum datangnya puasa

١ –  يحرم الصيام قبل رمضان بيوم، أو يومين، وذلك بقصد الاحتياط لرمضان، لكن من وافق عادة له بصيام أيام يصومها لا يقصد الاحتياط لرمضان فلا بأس بصيامه، كمن يصوم الاثنين والخميس فواقف ذلك آخر الشهر، وكمن يصوم صوما واجبا كصوم نذر، أو كفارة، أو صيام قضاء رمضان السابق، لما ثبت في الصحيحين من حديث أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: لا يتقدمن أحدكم رمضان بصوم يوم أو يومين، إلا أن يكون رجل كان يصوم صومه، فليصم ذلك اليوم(١)

1. Diharamkan puasa 1 hari sebelum ramadhan, atau 2 hari sebelum ramadhan, dan hal itu dengan tujuan berhati-hati untuk ramadhan. Akan tetapi siapa saja yang kebiasaannya bertepatan dengannya dengan puasa beberapa hari yang dia kerjakan puasa itu yang tidak diniatkan untuk berhati-hati untuk ramadhan maka tidak mengapa untuk dia puasa pada hari itu sebagaimana seorang yang berpuasa senin kamis maka hal itu bertepatan dengan akhir bulan Sya’ban dan sebagaimana dia berpuasa 1 hari puasa yang wajib seperti puasa nadzar atau puasa kafarat atau puasa qodho ramadhan yang lalu. Berdasarkan hadits yang telah tetap datangnya dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda: janganlah salah seorang diantara kalian mendahului ramadhan dengan berpuasa 1 atau 2 hari sebelumnya. Kecuali apabila ada seorang laki-laki yang dia biasa berpuasa pada hari itu maka hendaknya dia berpuasa pada hari itu(2)

ولما جاء من حديث عمار بن ياسر رضي الله عنه عند البخاري تعليقا مجزوما به وهو موصول في السنن: من صام يوم الشك فقد عصى أبا القاسم(٢)

Dan telah Datang hadits dari Ammar bin Yasir radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Bukhari secara muallaq dan Hadits ini Bersambung dalam kitab-kitab sunan: barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan maka sungguh dia telah durhaka kepada Abul Qasim (Rasulullah)(2)

٢ –  لا يصح صوم الفرض إلا بنية من الليل، لما ثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال: من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له(٣) وفي لفظ: من لم يبيت الصيام قبل الفجر(٤) وفي لفظ: من لم يبيت الصيام من الليل(٥)

2. Tidak sah puasa wajib kecuali dengan adanya niat di malam hari, dimana telah tetap dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: barangsiapa yang tidak berniat berpuasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya(3) dan dalam lafadz yang lain: siapa saja yang tidak berniat puasa di malam hari sebelum fajar(4),dan sebagian lafadz: siapa yang tidak berniat puasa di malam harinya(5)

ولما  ثبت في الصحيحين من حديث عمر بن الخطاب رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل أمرئ ما نوى(٦)

Dan telah tetap dalam 2 kitab shahih (Bukhari Muslim) dari Umar bin Khattab radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan(6)

٣ –  وبالنية أيضا يفسد الصيام، فمن نوى الإفطار من صومه أفطر وفسد صومه، في أصح قولي العلماء، لأن الصوم عبادة من شرطها النية في جميع أجزاء العبادة، فإذا نوى قطعها فسدت العبادة بنية الخروج منها وزالت حقيقة العبادة وحكمها، ففسد الصوم لزوال شرطه لما تقدم: (إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل أمرئ ما نوى) فبناء الأعمال على النيات، والأعمال معتبرة بها، وهي المصححة لها فمدارها عليها.

3. Dan dari niat juga bisa, merusak puasa, barangsiapa berniat untuk berbuka dari puasanya maka dia dianggap berbuka dan rusak puasanya. Ink berdasarkan pendapat yang paling shahih dari 2 pendapat ulama karena puasa adalah ibadah, dan diantara syarat ibadah adalah niat dalam seluruh bagian-bagian ibadah. Apabila seorang berniat untuk memutus ibadahnya maka rusaklah ibadah dengan sekedar niat keluar dari ibadah tersebut dan hilanglah hakikat ibadah itu dan hukumnya. Maka rusaklah puasa karena hilangnya syaratnya puasa. Sebagaimana telah berlalu: (sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan), maka bangunan amal itu tergantung dengan niatnya dan amal perbuatan itu semuanya dianggap dengan adanya niat. Dan niat itu adalah yang membenarkan amalan, mka berputusnya segala amalan itu adalah diatas niatnya.

_____

(١) سبق تخريجه

(1) telah disebutkan takhrij haditsnya

(٢) سبق تخريجه

(2) telah disebutkan takhrij haditsnya

(٣) أخرجه أبو داود:أول كتاب الصوم، باب النية في الصيام، رقم (٢٤٥٤)

(3) dikeluarkan oleh Abu Dawud: Kitab puasa, bab Niat dalam puasa, nomor (2454)

(٤) أخرجه النساء: كتاب الصيام، ذكر اختلاف الناقلين لخبر حفصة في ذلك، رقم (٢٣٣١)

(4) dikeluarkan oleh An Nasa’i: Kitab puasa, disebutkan perbedaan ucapan dari kabar hafshoh tentang hal itu, nomor (2331)

(٥) أخرجه النساء: كتاب الصيام ذكر اختلاف الناقلين لخبر حفصة في ذلك، رقم (٢٣٣٤)

(5) dikeluarkan oleh An Nasa’i: Kitab puasa, disebutkan perbedaan ucapan dari kabar hafshoh tentang hal itu, nomor (2334)

(٦) أخرجه البخاري : كتاب بدء الوحي، كيف كان بدء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ رقم(١)، ومسلم: كتاب الإمارة،باب قوله صلى الله عليه وسلم: إنما الأعمال بالنيات، رقم(١٩٠٧)

(5) dikeluarkan oleh Bukhari: kitab permulaan wahyu, bagaimana dahulu turunnya permulaan wahyu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Nomor (1), Dan dikeluarkan oleh Muslim: kepemimpinan, bab ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: sesungguhnya setiap amalan bergantung dengan niat, nomor(1907)

Ringkasan hukum-hukum puasa ramadhan 12-13

ebook kitab

pemateri dan penerjemah : Ustad Muhammad Yusron

مفطرات الصيام

Pembatal-pembatal puasa

١ –  الأكل والشرب، وذلك بعد تبين الفجر الثاني، فمن أكل، أو شرب مختارًا ذاكرا لصومه من غير عذر، فسد صومه، وعليه الوعيد الشديد

1. Makan dan minum. Dan hal itu adalah setelah jelasnya fajar yang kedua (fajar shodiq), barangsiapa makan atau minum dan hal itu dilakukan menurut pilihannya sendiri (bukan dipaksa) dan dalam keadaan ingat tentang puasanya dengan tidak adanya udzur maka akan rusaklah puasanya. Dan baginya ancaman yang sangat berat.

لقول الله تعالى:

Berdasarkan firman Allah:

(وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ )[البقرة: ١٨]

dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, [Surat Al-Baqarah 187]

وعليه قضاء ذلك اليوم مع التوبة الصادقة والندم والإقلاع.

Maka wajib atasnya mengqodho’ hari dimana dia makan dan minum disertai dengan taubat yang sebenarnya dan disertai dengan penyesalan dan disertai dengan tidak akan mengulangi perbuatannya di kemudian hari.

٢ – من جامع أهله  في نهار رمضان، وهو صائم بطل صومه، هذا إذا كان عامدا عالما، ويجب عليه قضاء ذلك اليوم والتوبة النصوح مع الندم والإقلاع، ووجب عليه مع ذلك الكفارة، وهي عتق رقبة فإن لم يجد صام شهرين متتابعين، فإن لم يستطع أطعم ستين مسكينا،

2. Siapa saja yang mendatangi istrinya di siang hari ramadhan. Dan dia sedang berpuasa maka batallah puasanya, hal ini disyaratkan apabila orang itu dalam keadaan sengaja dan tahu hukumnya. Dan wajib bagi dirinya qodho’ pada hari itu kemudian taubat dengan sebenarnya disertai dengan penyesalan dan tidak akan mengulangi di kemudian hari. Dan wajib baginya bersamaan dengan apa yang disebutkan tadi untuk membayar kafarot. Kafarotnya adalah membebaskan seorang budak, dan apabila tidak menemukan budak untuk dimerdekakan maka dia wajib berpuasa 2 bulan berturut-turut dan apabila tidak mampu wajib baginya untuk memberi makan 60 orang miskin.

لما ثبت في الصحيحين من حديث أبي هريرة رضي الله عنه قال: بينما نحن جلوس عند النبي صلى الله عليه وسلم، إذ جاءه رجل فقال: يا رسول الله هلكت. قال: (مالك؟) – ولفظ مسلم قال: (وما أهلكك؟) – قال: وقعت على امرأتي وأنا صائم – لفظ مسلم: وقعت على امرأتي في رمضان -،

Hal itu berdasarkan yang telah tetap dari 2 kitab shahih (Bukhari Muslim) dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: ketika kami sedang duduk disisi Nabi shallallahu alaihi wasallam tiba-tiba datanglah laki-laki menemui Nabi dan berkata: Wahai Rasulullah telah binasa diriku, Nabi bertanya: (ada apa denganmu?) – dalam riwayat Muslim beliau bertanya: (apa yang telah membinasakan dirimu?) – laki-laki tersebut mengatakan: aku jatuh diatas istriku sedangkan aku berpuasa. – dalam riwayat Muslim laki-laki tersebut mengatakan: aku jatuh diatas istriku di bulan ramadhan -,

فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (هل تجد رقبة تعتقها؟) قال: لا، قال: (فهل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين)، قال: لا، فقال: (فهل تجد إطعام ستين مسكينا)، قال: لا،

maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: (apakah kamu memiliki budak yang bisa kamu bebaskan?) Laki-laki tersebut mengatakan: tidak, Nabi mengatakan: (apakah kamu mampu berpuasa 2 bulan berturut-turut?) Laki-laki tersebut mengatakan: tidak, Nabi mengatakan: (apakah kamu mendapatkan makanan yang bisa kamu berikan kepada 60 orang miskin?) Laki-laki tersebut mengatakan: tidak.

قال: فمكت النبي صلى الله عليه وسلم، فبينا نحن على ذلك أتي النبي صلى الله عليه وسلم بعرق فيها تمر – والعرق المكتل – قال: (أين السائل؟) فقال: أنا، قال: (هذها، فتصدق به،)

Abu Hurairah mengatakan: kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam terdiam, ketika kami dalam keadaan demikian didatangkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam sekeranjang kurma kering – yang dimaksud adalah sesuatu yang digunakan untuk menakar – Nabi berkata: dimanakah orang yang bertanya tadi? Laki-laki tersebut menjawab: saya wahai Rasulullah. Nabi mengatakan : ambillah ini dan bersedekahlah dengan kurma  ini.

فقال الرجل: أعلى أفقر مني يا رسول الله؟ فو الله ما بين لا بتيها – يريد الحرّتين – أهل بيت أفقر من أهل بيتي. فضحك النبي صلى الله عليه وسلم حتى بدت أنيابه، ثم قال: (أطعمه أهلك) (١)

Laki-laki tersebut mengatakan:apakah disedekahkan atas orang miskin daripada diriku  ya Rasulullah? Maka demi Allah apa yang ada diantara 2 bukit dari kota Madinah – yang dimaksud laki-laki tersebut adalah 2 bukit yang batu-batunya hitam – tidak ada diantara bukit-bukit yang batunya hitam di kota Madinah penduduk rumah yang lebih miskin daripada keluarga rumahku, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam tertawa hingga nampak gigi taringnya kemudian mengatakan: berikanlah kurma kering ini sebagai makanan untuk keluargamu(1)

وفي الحديث: دليل على أن الجماع في نهار رمضان من الصائم المكلف المقين الصحيح المتعمد المتذكر كبيرة من كبائر الذنوب، لإقرار النبي صلى الله عليه وسلم للرجل على قوله: (هلكت) وفي حديث عائشة رضي الله عنها في صحيح مسلم: (احترقت)(٢)

Dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa mendatangi istri disiang hari ramadhan yang dilakukan oleh seorang yang berpuasa yang mukallaf dan muqim dan dia sehat dan sengaja dengan perbuatannya itu dan dia ingat, ini adalah termasuk dosa besar dari dosa-dosa besar. Berdasarkan penetapan Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk seorang laki-laki yang datang kepada Nabi atas ucapannya: (aku telah binasa), dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu anha dalam Shahih Muslim: (aku terbakar)(2)

وأما إذا جامع ناسيا فإن صومه صحيح في أصح قولي العلماء، ولا قضاء عليه، ولا كفارة.

Dan adapun apabila dia mendatangi istrinya dalam keadaan lupa maka sesungguhnya puasanya dia adalah sah berdasarkan pendapat yang paling shahih dari pendapat ulama dan tidak ada qodho’ yang wajib atas dirinya dan tidak ada kafarot.

____

(١) أخرجه البخاري : كتاب الصوم، باب إذا جامع رمضان، ولم يكن له شسء، فتصدق عليه فليكفر، رقم(١٩٣٦)،ومسلم : كتاب الصيام، باب تغليظ تحريم الجماع في نهار رمضان، رقم (١١١١)

(1) dikeluarkan oleh Bukhari : Kitab puasa bab jika seseorang bersetubuh di bulan ramadhan, sementara ia tidak memiliki sesuatu untuk dia sedekahkan, nomor (1936) dan Muslim : Kitab puasa bab larangan bersetubuh di siang hari pada bulan ramadhan, nomor (1111)

(٢) أخرجه مسلم : كتاب الصيام، باب تعليظ تحريم الجماع في نهار رمضان، رقم (١١١٢)

(2) dikeluarkan oleh Muslim : Kitab puasa, bab larangan bersetubuh di siang hari pada bulan ramadhan, nomor (1112)

Ringkasan hukum-hukum puasa ramadhan 13-14

ebook kitab

pemateri dan penerjemah : Ustad Muhammad Yusron

٣ – يلحق بالأكل والشرب ما في معناهما فيفطر الصائم بها، وذلك كالإبر المغذية، لأنه يستغني بها عن الطعام، وكذا حقن الدم يفطربه الصائم، لأن الدم خلاصة الطعام والشراب.

3. Digabungkan dengan Pembatal makan dan minum apa saja yang semakna dengan makan dan minum. Maka seorang yang berpuasa menjadi batal puasanya. Dan hal itu seperti jarum-jarum yang memberi gizi (infus) karena dengan infus itu seseorang tidak butuh lagi makan. Demikian juga injeksi darah (transfusi darah) maka batal puasanya, karena darah adalah intisari dari makanan dan minuman

لكن الغالب فيمن يحتاج إلى الإبر المغذية، أو إلى حقن الدم فإنه مريض يباح له الفطر.

Akan tetapi kebanyakan orang-orang yang membutuhkan infus atau dia membutuhkan transfusi darah adalah orang-orang yang sakit dan dibolehkan baginya untuk berbuka.

أما الإبر المكافحة للمرض فلا يفطر بها الصائم سواء كانت في الوريد، أو العضل، لأنها ليست أكلا، ولا شربا، ولا في معنى الأكل والشرب، لكن الاحتياط للصائم أن يؤخر إلى الليل.

Adapun suntikan-suntikan injeksi untuk penyakit maka tidak batal puasanya dan hal itu disuntikkan di uratnya maupun di lengannya. Karena itu bukanlah makanan dan bukan pula minuman. Tidak masuk makna makan dan minum. Akan tetapi yang lebih hati-hati bagi orang yang berpuasa hendaknya dia menunda injeksi hingga malam.

٤ –  شم البخور عالما عامدا يفطر به الصائم، وهو قول كثير من الفقهاء، لأن له نفودًا إلى الدماغ.

4. Mencium bau asap dari kayu wangi yang dibakar. Dan itu dalam keadaan dia tahu hukumnya dan dalam keadaan sengaja (menghirupnya) maka batal puasanya. Dan ini pendapat kebanyakan dari ahli Fiqh. Karena hal itu bisa menembus sampai ke otak.

أما إذا دخل أنفه، أو شمه من غير قصد فلا يفطربه الصائم، لعدم الإرادة والاختيار.

Adapun apabila asapnya masuk ke hidungnya atau dia menghirupnya tanpa sengaja maka seorang yang berpuasa tidak batal dengannya. Karena dia tidak menginginkannya dan bukan pilihannya.

Ringkasan hukum-hukum puasa ramadhan 14-16

ebook kitab

pemateri dan penerjemah : Ustad Muhammad Yusron

٥ –  إخراج الدم من الصائم بالحجامة يفسد الصيام، ويفطر بها الصائم، في أصح قولي العلماء، لما روى أبو داود بسنده عن ثوبان رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: أفطر الحاجم والمحجوم(١) ، ولما روى شداد بن أوس رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أتى على رجل بالبقيع، وهو يحتجم، وهو آخذ بيدي لثمان عشرة خلت من رمضان، فقال: أفطر الحاجم والمحجوم(٢)

5. Mengeluarkan darah dari orang yang berpuasa dengan berbekam, hal itu bisa merusak puasanya dan berbuka baginya orang yang berpuasa, hal ini menurut pendapat yang paling shahih diantara 2 pendapat para ulama. Berdasarkan yang diriwayatkan oleh Abu Dāwūd dengan sanadnya dari Tsauban radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda : telah dianggap berbuka seorang yang membekam (tukang bekam) dan orang yang dibekam(1), dan berdasarkan riwayat Syadad bin Aus radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah datang menemui seorang laki-laki di baqi’, ketika itu laki-laki tersebut sedang berbekam dan ketika itu nabi memegang tanganku dan hal itu adalah tanggal 18 ramadhan, Nabi bersabda: seseorang yang membekam dan yang dibekam telah berbuka dengannya(2)

وفي الباب عن جمع من الصحابة رضوان الله عليهم(٣)

Dalam bab ini terdapat dalil juga dari beberapa sahabat(3)

وإلى القول بأن الحجامة تفطر الصائم ذهب طائفة من أهل العلم كأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه، وأبي ثور، وهو قول عطاء وعبدالرحمن بن مهدي، والأوزاعي، والحسن، وابن سيرين، وبه قال الشافعية وهذا القول هو اختيار شيخ الإسلام ابن تيمية(٤)، وتلميذه العلامة ابن القيم(٥) – رحمهما الله –

Dan berdasarkan pendapat bahwa berbekam bisa membatalkan orang yang berpuasa maka sekelompok ulama berpendapat seperti Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohawaih, Abu Tsaur, dan ini adalah pendapatnya Atho’ dan Abdurrahman bin Mahdi, Al Auza’i, Hasan Al Basri, Ibnu Sirin, dan dengan pendapat-pendapat ini ulama-ulama Syafi’i berkata : dan pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah(4) dan juga muridnya Al Alamah Ibnu Qayyim(5) semoga Allah merahmati mereka semuanya.

وذهب جمهور العلماء إلى عدم الفطر بالحجامة مطلقا، وهو قول مالك، والشافعي، وأبي حنيفة، وبعض الصحابة والتابعين.

Dan mayoritas para ulama berpendapat tidak batal puasanya disebabkan berbekam secara mutlak dan ini adalah pendapatnya Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah dan juga sebagian sahabat dan tabi’in.

٦ –  القيء، فإن الصائم يفطر في أصح قولي العلماء إذا زشتقاء عمدًا، أما إذا ذرعه القيء وغلبه فلا يفطر به الصائم، لما ورد من حديث أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من ذرعه القيء، فليس عليه قضاء، ومن استقاء عمدًا فليقض(٦). وقال ابن المنذر: أجمع أهل العلم على إبطال صوم من استقاء عامدًا(٧)

6. Muntah. Sesungguhnya seorang yang berpuasa batal dengannya, berdasarkan pendapat yang paling shahih diantara 2 pendapat ulama apabila ia muntah dengan sengaja. Adapun apabila muntah ini mendatanginya dan mengalahkannya maka tidak batal puasanya. Hal ini berdasarkan riwayat dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: barangsiapa yang tidak sengaja muntah maka tidak ada atasnya qodho’ dan barangsiapa muntah dengan sengaja maka hendaknya dia mengqodho'(6). Dan Ibnu Mundzir berkata: para ulama telah bersepakat atas batalnya orang yang muntah dengan sengaja(7).
_______

(١) أخرجه أبو داود: كتاب الصوم، باب في الصائم يحتجم، رقم (٢٣٦٧)، وابن ماجه: كتاب الصيام، باب ماجاء في الحجامة للصائم، رقم(١٦٨٠)

(1) riwayat Abu Dawud: Kitab puasa, bab orang yang berpuasa melakukan bekam, nomor (2367), dan Ibnu Majah: kitab puasa, bab berbekam bagi orang yang berpuasa, nomor (1680)

(٢) أخرجه أبو داود: كتاب الصوم، باب في الصائم يحتجم، رقم (٢٣٦٩)،وصححه غير واحد من الأئمة كأحمد وإسحاق والبخاري وعلي بن المديني والدارمي.

(2) riwayat Abu Dawud: Kitab puasa, bab orang yang berpuasa melakukan bekam, nomor (2369), dan dishahihkan lebih dari 1 orang dari kalangan para ulama seperti Ahmad, Ishaq, Bukhari, Ali Ibnu Mundzir dan Ad Darimi.

(٣) انظر: تهذيب السنن(٥١١/٤)

(3) lihat: tahdzib as sunan (4/511)

(٤) انظر: مجموع الفتاوى(٢٥٢/٢٥)

(4) lihat: Majmu Fatawa (25/252)

(٥) انطر: إعلام الموقعين عن رب العالمين (٢٦/٢)

(5) lihat: i’lam al muwaqiin an robbil aalamiin (2/26)

(٦) أخرجه أبو داود: كتاب الصيام، باب الصائم يستقيء عامدًا، رقم (٢٣٨٠)، والترمذي: أبواب الصوم، باب ماجاء فيمن استقاء عمدًا، رقم (٧٢٠)، وابن ماجه: أبواب الصيام، باب ماجاء في الصائم يقيء، رقم(١٦٧٦) وصححه ابن خزيمة وابن حبان والحاكم

(6) riwayat Abu Daud: Kitab puasa, bab orang yang berpuasa muntah dengan sengaja, nomor (2380), Tirmidzi: bab puasa, bab muntah sengaja, nomor (720), Ibnu Majah: bab puasa, bab orang yang berpuasa muntah, nomor (1676), dan dishahihkan oleh Ibnu Kuzaimah dan Ibnu Hibban dan Al Hakim

(٧) انظر: الإجماع لابن المنذر: (١٢٦/٤٩)

(7) lihat: al ijma’ oleh Ibnu Mundzir (49/126)

Ringkasan hukum-hukum puasa ramadhan 17-18

ebook kitab

pemateri dan penerjemah : Ustad Muhammad Yusron

من أحكام الصيام للمريض والمسافر

Diantara hukum-hukum berpuasa bagi orang yang sakit dan orang yang bepergian

١ –  أن المسافر في شهر رمضان يجوز له أن يفطر مدة سفره. ثم يقضي عدة الأيام التي أفطرها، لقول الله تعالى:

1.  Bahwasanya orang yang bepergian jauh di bulan ramadhan diperbolehkan baginya untuk berbuka selama safar nya,  kemudian dia mengganti bilangan hari-hari yang dia telah berbuka di hari-hari tersebut. Berdasarkan firman Allah :

(فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ )[البقرة : ١٨٥]

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”[Surat Al-Baqarah 185]

٢ –  أن المسافر الصائم في شهر رمضان مخير بين الصيام والإفطار، وذلك مع القضاء، لما ثبت في الصحيحين من حديث عائشة رضي الله عنها أن حمزة بن عمرو الأسلمي قال للنبي صلى الله عليه وسلم: أأصوم في السفر؟ وكان كثير الصيام-، فقال: إنشئت فصم، وإن شئت فأفطر(١).

2. Bahwasanya seorang musafir yang sedang berpuasa di dalam bulan ramadhan dia diberikan pilihan antara berpuasa atau berbuka, dan hal itu bersama dengan mengqodho’. Hal itu berdasarkan yang telah tetap dari 2 kitab shahih (Bukhari Muslim) dari hadits Aisyah radhiyallahu anha bahwasanya Hamzah bin  Amr Al Aslami bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: apakah aku tetap berpuasa ketika safar? Dan dia adalah orang yang terkenal banyak berpuasa -, maka Nabi bersabda: jika kamu mau maka puasalah dan jika kamu mau maka berbukalah(1)

٣ – أن المريض يجوز له أن يفطر في نهار رمضان، ويقضي الأيام التي أفطرها، وكذا الحمل والمرضع إذا خافتا على نفسيهما، أو على ولديهما تفطران، وتقضيان،لأنهما في حكم المريض، لقول الله تعالى:

3. Bahwasanya orang yang sakit diperkenankan baginya untuk berbuka di siang hari bulan ramadhan, namun wajib bagi dia mengganti puasa di hari-hari dimana dia berbuka. Demikian juga wanita yang hamil dan menyusui apabila keduanya khawatir atas diri mereka berdua atau khawatir atas anak keduanya, maka keduanya boleh berbuka dan keduanya wajib mengqodho’. Karena mereka berdua dihukumi sebagaimana hukum orang yang sakit. Berdasarkan firman Allah:

(فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ )[البقرة: ١٨٤]

“Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”[Surat Al-Baqarah 184]

والمرض المبيح للفطر هو: الشديد الذي يزيد بالصوم أو يخشي تباطؤ برئه(٢)

Dan penyakit yang membolehkan untuk berbuka adalah penyakit yang sangat parah yang bisa bertambah parah dengan berpuasa atau dikhawatirkan menjadi lama kesembuhannya dengan dia berpuasa.(2)

وأجمع أهل العلم على إباحة الفطر للمريض في الجملة، لقول الله تعالى:

Dan para ulama telah bersepakat atas dibolehkannya berbuka bagi orang yang sakit secara umum. Berdasarkan firman Allah:

(وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ)[الحج: ٧٨]

“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”[Surat Al-Hajj 78]

بخلاف المرض الخفيف الذي يشق معه الصوم، ولا أثر للصوم فيه فإنه لا يبيح الفطر، ويجب عليه الصوم لدخوله في عموم قوله تعالى:

Ini berbeda dengan penyakit yang ringan yang menjadi berat bersamanya berpuasa, dan tidak ada pengaruh untuk puasa di dalamnya. Maka penyakit yang ringan ini tidak membolehkan berbuka. Bahkan wajib atasnya berpuasa karena dia telah masuk dalam keumuman firman Allah:

(فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ)[البقرة : ١٨٥]

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, “[Surat Al-Baqarah 185]
_____

(١) أخرجه البخاري: كتاب الصوم، باب الصوم في السفر والإفطار، رقم (١٩٤٣)،ومسلم: كتاب الصيام، باب التخيير في الصوم والفطر في السفر، رقم (١١٢١).

(1) riwayat Bukhari: Kitab puasa, bab puasa dan berbuka saat safar, nomor (1943), Muslim : Kitab puasa, bab pilihan antara berbuka atau berpuasa saat safar, nomor (1121).

(٢) انظر المغني لابن قدامة(١٥٥/٣)

(2) lihat Al Mughni oleh Ibnu Qudamah (3/155)

Ringkasan hukum-hukum puasa ramadhan 19-21

ebook kitab

pemateri dan penerjemah : Ustad Muhammad Yusron

من أحكام الصيام في الفطور والسحور

Diantara hukum-hukum ketika berbuka puasa dan ketika makan sahur

١ –  استحباب تعجيل الفطر إذا تحقق غروب الشمس بالرؤية، أو بإخبار ثقة عدل، لما ثبت في الصحيحين من حديث سهل بن سعد رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر(١)

1. Disunnahkan untuk menyegerakan berbuka, apabila telah terwujud tenggelamnya matahari dengan melihat atau dengan berita orang yang terpercaya lagi adil, hal itu berdasarkan yang telah tetap dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Sahl bin Saad radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka(1),

وذلك لأن تعجيل الفطر يدل على الامتثال، وتأخيره يدل على الغلو،

dan hal itu karena menyegerakan berbuka menunjukkan ketundukan dan kepatuhan, dan Mengakhirkan berbuka menunjukkan perbuatan berlebih-lebihan.

كما يفعله اليهود والنصارى، وكما يفعله بعض الطوائف المنحرفة في تأخير الفطر إلى ظهور النجوم،

Sebagaimana hal itu dikerjakan oleh Yahudi dan Nasrani dan sebagaimana dikerjakan oleh sebagian kelompok yang menyimpang dalam mereka menunda berbuka hingga munculnya bintang-bintang.

وورد في سنن أبي داود: لأن اليهود والنصارى يؤخرون(٢).وقد روى ابن حبان والحاكم من حديث سهل رضي الله عنه بلفظ: لا تزال أمتي على سنتي ما لم تنتظر بفطرها النجوم(٣)

Diriwayatkan dalam sunan Abu Dawud: sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani mereka mengakhirkan sahur(2). Dan sungguh Ibnu Hibban dan Al Hakim telah meriwayatkan dari hadits Sahl radhiyallahu anhu dengan lafadz : umatku senantiasa berada diatas sunnahku selama mereka tidak menunggu berbukanya bintang-bintang(3).

٢ – استحباب السحور، قال الله تعالى:

2. Disunnahkan untuk makan sahur. Allah berfirman:

(وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ) [البقرة: ١٨٧]

“dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”[Surat Al-Baqarah:187].

وثبت في الصحيحين من حديث ابن عمر رضي الله عنه قال: كان لرسول الله صلى الله عليه وسلم مؤذنان: بلال وابن أم مكتوم الأعمى، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن بلالًا يؤذن بليل، فكولوا واشربوا حتى ينادي ابن أم مكتوم

Dan telah tetap dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim dari haditsnya Ibnu Umar radhiyallahu anhu berkata: dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memiliki 2 muadzin yaitu Bilal dan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan ketika tengah malam, maka makanlah dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.

قال القاسم بن محمد – أحد رواة الحديث – : ولم يكن بينهما إلا أن ينزل هذا، ويرقى هذا(٤)

Al Qasim bin Muhammad berkata – beliau adalah salah satu dari perawi hadits – : dan tidak ada diantara keduanya kecuali turun salah satunya dan naik yang satunya (yaitu Ibnu Ummi Maktum untuk mengumandangkan adzan)(4)

ومن الأدلة على استحباب السحور: ما ثبت في الصحيحين من حديث أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: تسحروا فإن في السحور بركة(٥)

Diantara dalil-dalil yang menunjukkan disunnahkannya makan sahur adalah apa yang telah tetap dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Anas radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: makanlah sahur, karena sesungguhnya di dalam makan sahur itu ada keberkahan(5)

استخباب تأخير السحور، لما جاء في صحيح مسلم عن عمرو بن العاص رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب، أكلة السحر(٦)

3. Disunnahkan untuk mengakhirkan makan sahur, berdasarkan hadits yang datang dalam Shahih Muslim dari Amr bin Ash radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: pembatas antara puasa kita dan puasanya ahli kitab adalah dalam perkara makan sahur(6)
_____

(١) أخرجه البخاري: كتاب الصوم، باب تعجيل الإفطار، رقم (١٩٥٧)، ومسلم: كتاب الصيام، باب فضل السحور وتأكيد استحبابه، رقم (١٠٩٨)

(1) riwayat Bukhari : Kitab puasa, bab menyegerakan berbuka, nomor(1957), dan Muslim: Kitab puasa, bab keutamaan makan sahur dan dianjurkan mengakhirkannya, nomor (1098)

(٢) أخرجه أبو داود: كتاب الصوم، باب ما يستحب من تعجيل الفطر، رقم(٢٣٥٣)

(2) riwayat Abu Dawud : Kitab puasa, bab anjuran untuk menyegerakan berbuka, nomor(2353)

(٣) أخرجه ابن حبان: كتاب الصيام، باب الإفطار وتعجيله، رقم (٣٥١٠)، والحاكم: كتاب الصوم، رقم(١٥٨٤) وقال الحاكم هذا حديث صحيح على شرط الشيخين، ولم يخرجاه بهذه السياقة

(3) riwayat Ibnu Hibban: Kitab puasa, bab menyegerakan berbuka nomor (3510), Al Hakim: kitab puasa nomor(1584), Al Hakim berkata hadits ini shahih syarat shahih Bukhari Muslim, tetapi tidak dikeluarkan oleh mereka.

(٤) أخرجه البخاري: كتاب الأذان، باب أذان الأعمى إذا كان له من يخبره، رقم(٦١٧)، ومسلم: كتاب الصيام، باب بيان أن الدخول في الصوم يحصل، رقم(١٠٩٢)

(4) riwayat Bukhari: Kitab Adzan, bab adzannya orang buta jika diberitahu masuknya, nomor (617) dan Muslim: Kitab puasa, bab penjelasan bahwa masuknya puasa adalah terbitnya fajar, nomor(1092)

(٥) أخرجه البخاري : كتاب الصوم، باب بركة السحور من غير إيجاب، رقم(١٩٢٣)، ومسلم: كتاب الصيام، باب فضل السحور وتأكيد استحبابه، رقم(١٠٩٥)

(5) riwayat Bukhari: Kitab puasa, bab berkah makan sahur nomor (1923), Muslim: Kitab puasa, bab keutamaan makan sahur dan dianjurkan mengakhirkannya, nomor (1095)

(٦) أخرجه مسلم: كتاب الصيام، باب فضل السحور وتأكيد استحبابه، رقم (١٠٩٦)

(6) riwayat Muslim: Kitab puasa, bab keutamaan makan sahur dan dianjurkan mengakhirkannya, nomor (1096)